Palu.Jarrakpossulteng.com. Tender proyek jalan nasional yang di tangani oleh BPJN multi year 2021 yg dikerjakan selama 2 tahun hingga 2023, diduga ada “Kongkalingkong” dalam pelaksanaan lelang tersebut alias ada bau tidak sedap.

Pasalnya antara pemenang lelang yakni PT.TY sudah bermain mata dengan Pokja BP2JK (Balai Pelaksana Pemilihan Jasa Kontruksi) Sulawesi Tengah untuk memenangkan lelang tersebut.

Indikasi permainan kotor tersebut sudah terlihat jauh-jauh hari sebelum pelaksanaan lelang di mulai.

Adanya sinyalemen ini menurut sumber yang layak di percaya oleh Media Online “Jarrakpos” bahwa ada salah seorang yang notabene adalah perwakilan PT.TY berinisial “JT” yang merupakan salah seorang pengusaha lokal mata Cipit dan bahkan banyak menguasai proyek APBD kabupaten Buol, kasak kusuk datang nenemui Pokja BP2JK yang beralamat di jalan Gunung Bosa.

Dari pertemuan oknum pengusa tersebut menurut sumber Jarrakpos terjadi pemberian sesuatu kepada Pokja BP2JK , dengan tujuan untuk memuluskan PT.TY sebagai pemenang lelang yang di biayai APBN /ADB, Asia Depelopme Bank dengan pagu anggaran kurang lebih 60 milyar rupiah, dan lebih menggelitik lagi ada keterlibatan 01 kabupaten Buol yakni Bupati.

Lebih lanjut sumber “Jarrakpos” mengatakan bahwa oknum pengusaha tersebut juga meminta Pokja agar PT.TY dimenangkan dalam lelang tersebut walaupun diketahui bahwa kelengkapan dokumen PT.TY tidak memehi syarat alias tidak lengkap sehingganya Kasatker dan PPK tidak menggubrisnya .

Sesuai pantauan “Jarrakpos” dilapangan beberapa pekan lalu bahwa PT.TY pernah mengerjakan proyek tahun anggaran 2019 di Satker Wil.I itu dengan pagu anggaran Rp.20 M lebih, bahkan pekerjaannya terlambat dan terancam diputus pada saat itu, namun PT.TY meminta bantu ” JT” selaku pengusaha lokal di Buol yang konon banyak mengangkangi proyek APBD Buol untuk menyelesaikan.

Dari hasil penyelesaian perkerjan yang terlambat tersebut dan terburu-buru, ternyata hasilnya pun amburadul , saat ini sudah banyak yang rusak dan berlubang, oleh karena itu, sumber “Jarrakpos” menyimpulkan bahwa kwalitas pekerjaan yang sama sekali tidak memenuhi standar secara tehnis, jelas yang rugi negara terlebih lagi masyarakat daerah kabupaten Buol, ungkap sumber.

Sementara itu dua orang Pokja BP2JK Mohamad dan Aditya saat di temui ” Jarrakpos” mengatakan bahwa dalam pelaksanaan lelang tersebut sudah sesuai mekanisme dan peraturan perundang-undangan yg berlaku, kami dari Pokja tidak main dalam bekerja, dan tahapan- tahapannya sudah sesuai prosedur, sampai ke penetapan pemenang.

Ketika “Jarrakpos” menanyakan dugaan bahwa ada permainan dan Pokja “diduga” telah menerima suap dengan tujuan untuk memuluskan PT .TY menjadi pemenang, itu sama sekali tidak benar, itu berita “Hoax” seratus persen.

Kami berjumlah 5 orang Pokja tdk akan main- dalam melaksanakan tugas sesuai peraturan yang ada, ketika disinggung ada keterlibatan bupati Buol, itu sama sekali tidak benar, kami tidak tau itu, kami hanya menjalankan tugas kami sebagai Pokja, setelah itu hasil pemenangnya kami serahkan ke Satker (Balai) untuk penandatangan kontrak, ujar Mohamad yang didampingi Aditya selaku Pokja.

Sumber : Jarrakpos Official
Laporan : tiem
Editor : kurnia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here