Viral Video Dimedsos Tidak Ikuti Kebijakan Pemerintah Pusat Kini Wilayahnya Masuk Zona Merah Virus Covid-19

3 min read

Jarrakpossulawesi.com – Masih ada saja pemimpin yang arogan dan tak mau mengikuti himbauan Pemerintah seperti kejadiannya di daerah Prabumulih ini. Arogansi sang pemimpin menuai petaka dan bencana dan korbannya ya tak lain warganya sendiri.

Pemimpin model ini memang tak mempedulikan keselamatan warga. Mau pamer kekuasaan alias otoritasnya tapi yang dia sedang hadapi itu adalah musuh yang tak kelihatan dan sangat fatal alias mematikan,

Si Walikota Prabumulih, Ir H Ridho Yahya MM dalam sebuah video dan dilansir juga melalui media memberi penegasan bahwa dirinya tidak akan meliburkan seluruh aktifitas kantor pegawai dan belajar mengajar para pelajar di Prabumulih Sumatera Selatan.

“Tidak akan saya liburkan, kalau ada jaminan jika diliburkan maka corona hilang akan ku liburkan besok. Biasa-biasa saja, tenang, kalau kita libur malah tambah resah masyarakat, kita jamin Prabumulih aman,” tegas Ridho ketika diwawancarai wartawan, Senin (16/3/2020) dan terekam juga dalam sebuah video.

Jadi pertengahan Maret lalu Bupati Prabumulih ini sok yakin bisa mengendalikan kotanya serta menghindari gejolak. Caranya ya membiarkan aktifitas seperti biasa tanpa memedulikan kebijakan Pusat yang berlaku secara nasional tersebut.

Pak Wali malah mempertanyakan kebijakan Pusat yang meliburkan serta mempertanyakan bahwa kondisi tersebut bisa menimbulkan gejolak. Makanya dia berani melawan arus, mau meredam gejolak serta menjamin bahwa daerahnya akan bisa mengantisipasi bencana tersebut. Dipikir ini cuma wabah seperti demam berdarah.

Sikap arogansi yang menyundul langit ini memang kelewatan. Dirinya emang malaikat penolak bala? Sok meremehkan kebijakan Pusat padahal masalah ini bukan hanya dihadapi bangsa kita tapi seluruh dunia.

Apa nggak melihat berita di media? Beginilah model pemimpin yang hidup dalam tempurung. Dia tak membuka lebar-lebar informasi yang ada bahkan informasi dari Presiden pun dilawan!

Tak terlintas sama sekali ada upaya antisipasi untuk melindungi para pelajar termasuk para pegawainya. Pemikiran yang picik dan sempit ini tak lama kemudian menuai malapetaka yang kini mencoreng daerah yang dipimpin sang Pak Wali.

Sok yakin bisa tapi malah blunder fatal. Hanya butuh dua minggu maka kesombongannya itu akhirnya runtuh tak tersisa.

Media melansir bahwa pasien positif terinfeksi virus corona (Covid-19) di Sumatera Selatan (Sumsel) menjadi 11 orang per hari ini, Kamis (2/4). Dari jumlah itu, 4 pasien positif virus corona berasal dari Kota Prabumulih.

Kepala Seksi Surveillance dan Imunisasi Dinas Kesehatan Sumsel Yusri mengatakan Kota Prabumulih ditetapkan sebagai zona merah penyebaran virus corona karena terjadi transmisi lokal.

Ke mana ucapannya penuh kontra terhadap kebijakan pemerintah pusat si Pak Wali. Sekarang daerahnya sudah ditetapkan sebagai zona merah. Itulah akibat buah kecongkakan menantang Tuhan dan sekaligus menantang wabah COVID-19 ini.

Sang Pak Wali pasti udah ngumpet dan mungkin kini memakai masker. Makanya mulut tuh dijaga yang ketat, jangan asal main nyerocos seolah bisa mengendalikan dan memasttikan Kota Prabumulih itu aman sentosa.

Sebelumnya Pak Wali juga menegaskan, pihaknya menyiapkan layanan kesehatan 119 yang standby 1×24 jam dan menjanjikan pengobatan gratis. Ada sisi positifnya sih yaitu dia menyatakan akan membagikan masker gratis dan terus mensosialisasikan budaya hidup bersih serta sehat.

Lalu solusi lainnya? Yaitu dengan cara seluruh pegawai di Pemkot Prabumulih menggelar solat dan doa bersama. Rencana solat bareng itu dinyatakannya pas saat diwawancara. Jadi malah mengadakan kegiatan kumpul massa atau jemaah pula,

Memang si pak Wali itu pamer kesombongan sih. Tak mau menaati himbauan Pemerintah Pusat dan malah membuat aktifitas terus berjalan normal dan malah menginisiasi untuk mengumpulkan pegawainya.

Sikap ini bisa dikatakan nekat dan tanpa rasa takut tapi lebih didasari oleh kekonyolan. Sekarang sudah memasuki zona merah dengan transmisi lokal, mau gimana lagi Pak Wali? Sekarang virus itu menjalar tanpa terdeteksi dan di luar kendali dirinya.

Hanya bisa berharap dan mendoakan agar jangan jatuh korban lagi gegara kesombongan si Pak Wali. Memalukan, sekarang ucapannya itu bisa dituntut karena pengabaian yang dilakukannya sudah memakan korban jiwa.

Masih pede lagi Pak Wali? Mending isolasi diri karena sudah kontak dengan banyak orang gegara sikap arogansi yang sangat konyol tersebut.

EDITOR : EFFENDI | GR

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *