Tanggul Jalan Salule Jebol Diduga Disaat Pembangunan Gunakan Air Laut

2 min read

Sulbar, Jarrakpossulawesi.com – Salah satu titik proyek peningkatan kapasitas dan struktur jalan trans Sulawesi di Salule, desa Pangiang, kecamatan Bambalamotu, Pasangkayu, Sulawesi Barat ambruk karena hantaman ombak.

Hal ini tidak terlepas dari dugaan buruknya mutu proyek tersebut. Sebab, sebagian warga di sana menyaksikan jika campuran proyek ini menggunakan air laut sebagai bahan adonan material.

Tiga pekan lalu, 9 Maret 2020, rombongan Komisi III dan wakil ketua DPRD Sulawesi Barat sempat berkunjung ke sana. Oleh salah warga, menyampaikan bahwa kontruksi adonan material bangunan menggunakan campuran air laut sehingga tanggul jalan tersebut gampang jebol karena kropos.

Proyek ini dimulai dari Kayu Maloa, Pangiang, Salule, Pelabuhan Tanasa (kecamatan Bambalamotu) hingga Ako, Muara Baloli, Bundaran Smart Pasangkayu (kecamatan Pasangkayu).

Selesai dibangun sudah lebih setahun, proyek ini senilai Rp.23.333.065.000 bersumber dari DAK-ABPD Pasangkayu tahun 2018 dengan masa kerja 221 hari kalender terhitung sejak 25 Mei hingga 31 Desember 2018.

Sesuai momor kontrak : 600/258/KONT-FISIK/PPK-BM/V/2018/PUPR, proyek ini dikerjakan PT. Aphasko Utamajaya (anak perusahaan PT. Passokorang) dengan konsultan pengawas CV. Karya Mutiara.

Menurut kesaksian mantan kepala desa Pangaiang, Haris kepada media, ia sempat menyampaikan teguran keras kepada pekerja saat proses pengerjaan.

Iapun tidak heran jika sekarang pondasi (tanggul) jalan itu mengalami kerusakan. Karena saat itu, ia menyaksikan pekerja menggunakan air laut untuk campuran semen.

Dahlil, warga Salule mantan anggota BPD Pangiang, juga sejak awal sudah curiga. Pasalnya, kala itu ia melihat pekerjaan ini menggunakan air laut. Karena, menurutnya itu dapat mengurangi mutu.

Diapun tak ragu mengingatkan kepada salah seorang diduga pengawas (nama tak dikenal), namun hanya dijawab dengan permohonan maaf.

Rahman, warga lain di Salule yang menyaksikan pertama kerusakan tanggul jalan itu akibat hantaman ombak, tapi ia juga menduga akibat kualitas campuran tidak bagus.

Heryanto, kepala cabang PT. Possokorang tak banyak komentar saat dikonfirmasi soal ini. “Kami profesional pak dalam bekerja,” jawaban singkat Heryanto melalui pesan aplikasi, Jumat, 27 Maret 2020.

Editor: Effendi | GR

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *