PENANGKAPAN DT SANGAT PREMATUR DIKAITKAN DENGAN SOSOK KAPOLRI KE DEPAN

3 min read

Jakarta, Jarrakpossulawesi.com|

Sabtu ( 1/8/2020). Pakar komunikasi dari Universitas Pelita Harapan Emrus Sihombing  memberikan apresiasi yang tinggi  terhadap kinerja Mabes Polri menangkap DT yang dipimpin langsung oleh Kabareskirim. Namun terlalu prematur bila hanya berlandaskan prestasi yang satu ini, ada aktor tertentu  mengaitkan dengan pantas tidaknya sosok individu menjadi Kapolri menggantikan Idham Azis yang akan memasuki masa pensiun tahun depan.

Di media massa memuat pandangan BS dan FZ, yang seolah berada pada posisi yang berbeda terkait dengan sosok Kapolri ke depan dengan keberhasilan menangkap DT. Aktivis Anti korupsi, BS menyebutkan seseorang layak menjadi Kapolri. Jadi, BS seolah “tim sukses” dari sosok tertentu. Ini sangat tidak produktif di tengah Polri kita terus berkomitmen bertugas atas dasar Promoter.

Sementara salah seorang politisi dari partai yang ketumnya menjadi menteri saat ini, FZ seolah menyindir dengan menyebut, oh ingin jadi kapolri? Sindiran FZ ini tidak bedanya memposisikan dirinya sebagai oposisi dalam politik praktis yang trasaksional. Sementara karir polisi, hingga menjadi nomor satu di kepolisian, atas dasar profesional, integritas dan kapabilitas yang diukur dengan prestasi. Jadi sangat Promoter. Namun saya harus memberi ruang alternatif, boleh jadi BS dan FZ mempunyai data, pengamatan dan dasar pemikiran yang berbeda dengan saya sehingga mereka berdua melontarkan pandangan seperti tersebut di atas.

Meskipun demikian, di satu sisi, wacana yang dilontarkan BS dan FZ tersebut, menurut hemat saya, terlalu dini dan tidak kontekstual dengan prestasi Bareskrim Polri menangkap DT. Sebab, keberhasilan itu, bagian dari tupoksi (kewajiban tugas) Bareskrim Polri sendiri. Di sisi lain, pandangan BS dan FZ sangat tidak menguntungkan bagi seseorang tertentu yang boleh jadi pantas tidaknya menjadi Kapolri, karena menurut saya, sosok tersebut bekerja atas dasar tugas, tanggung jawab dan panggilan sebagai penegak hukum, bukan karena ingin posisi yang lebih tinggi.

Karena itu, yang perlu didorong oleh semua kalangan agar Bareskrim terus menorehkan prestasi demi prestasi dengan menangkap dan membawa ke proses hukum satu persatu para koruptor yang masih melarikan diri. Tidak hanya menangkap DT, lalu melempem. Masih ada puluhan lagi “DT-DT” lainnya. Salah satu di antaranya  yang tidak asing namanya di ruang publik adalah ET yang diduga merugikan negara sangat besar saat itu.

Menurut catatan EmrusCorner yang dari berita di media massa, ada 40 orang koruptor, salah satu di antaranya DT yang sudah ditangkap pekan ini, yang melarikan diri menghindari proses hukum yang seharusnya mereka jalani. Jadi, dengan tertangkapnya DT, maka masih ada 39 orang yang menikmati “udara segar”.

Oleh karena itu, tentu dengan dukungan politik yang kuat dari seluruh fraksi di DPR-RI dan berbagai kalangan agar prestasi penangkapan DT ini menjadi motivasi bagi Bareskrim Polri melakukan penangkapan para koruptor yang masih melarikan diri. Tentu dengan berbagai penyesuaian situasi, kondisi dan keunikan di lapangan.

Berdasarkan informasi awal terkait dengan 39 orang tersebut, disusun dalam suatu perencanaan dan tindakan operasi dengan skala perioritas atas dasar tingkat kesulitan mengeksekusi di lapangan. Saya menyarankan, utamakan penangkapan kepada seseorang yang gradasi tingkat kesulitan eksekusi di lapangan yang lebih rendah. Demikian seterusnya hingga 39 orang ini tertangkap dalam kurun empat tahun ke depan.

Jika operasi penangkapan terhadap  semua koruptor yang melarikan diri tersebut dapat direalisasikan dalam kurun empat tahun ke depan, saya berpendapat, seluruh rakyat Indonesia akan bergembira sembari memberikan “dua jempol” sekaligus kepada Mabes Polri, terutama kepada Bareskrim Polri kita sebagai wujud apresiasi luar biasa. Semoga.

Sumber :
Emrus Sihombing
Direktur Eksekutif
Lembaga EmrusCorner

Editor.  : EH

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *