Corona dan Coruptor

2 min read

Jarrakpossulawesi.com | Pembebasan napi koruptor dari wajib pendidikan dan menginap Di Lapas, menjadi bahan ledekan Najwa Shihab dan ICW.

Bedanya ICW dengan teori ngawur dan asal ngomong yang penting bisa bersuara keras.
Sedangkan Najwa secara subtansi wacana aturan benar namun bumbunya berlebih sehingga terasa menyengat.
ICW menggunakan contoh SN bisa bebas, ya semua bisa bebas yang memenuhi aturan.
SN baru saja masuk dan masih jauh dari 2/3 hukuman, jelas tidak memenuhi kriteria pembebasan yang diwacanakan oleh Menteri KumHam.
Disini ICW sekedar menggunakan momentum untuk naik berita . Bisa masuk kategori pembodohan atau pembohongan publik.
Najwa sudah menyebutkan kriteria, namun lagi lagi yang ditonjolkan adalah SN, dan masalah teknis, full Kapasitas ,fasilitas dll.
Padahal masalah pandemi adalah ancaman global terhadap kesehatan dan hak untuk mendapatkan lingkungan kesehatan , ancaman wabah.
Yang diluar saja dikawatirkan kena apalagi yang didalam dengan segala keterbatasan.
Perdana Menteri, Pangeran bisa tertular.

Sebut saja kasus di Sukabumi dimana Anggota POLRI yang sedang mengenyam calon pendidikan perwira terpapar Covid-19 padahal mereka tinggal di tempat yg layak.

Semua Rutan dan Lapas akan menjadi Bom Waktu bila tidak segera ditangani melalui pengurangan kapasitas. Petugas yg keluar masuk Rutan dan Lapas tetap berpotensi pembawa (carrier) Covid-19. Lebih-lebih usia para terpidana Tipikor rata-rata diatas 55 tahun.

Meskipun satu kamar satu orang namun perikehidupan antar napi tidak bisa sebebas diluar untuk menjaga jarak, dan mengatur pergerakan didalam lingkungan lapas yang terbatas.
Apalagi sudah bertahun tahun didalam maka kesempatan keluar sel kamar adalah kesempatan emas untuk bergaul dengan sesama napi.

Jadi kriteria 2/3 dan umur diatas 60 adalah pertimbangan kemanusiaan.
Dan bila pertimbangan kemanusiaan Ini di ibenturkan dengan dendam dan nafsu balas dendam tidak akan ketemu.
Karena nafsu balas dendam tak kenal HAM.
Silahkan pak Menteri hilangkan HAM jika mengikuti nafsu balas dendam.

Penulis : Jhob kelly nahadin

Editor: GR

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *