Cerita Keluarga Korban Perkosaan Disogok Rp 1 Miliar oleh Anggota DPRD : Katanya Uang dari Pelaku

4 min read

Jarrakpossulawesi.com | Kejadian pemerkosaan memang dilarang oleh agama ataupun hukum, karena hal demikian bisa merugikan pihak sebelah. Akan ada selalu orang yang dirugikan atau bahkan keluarga dalam kejadian seperti itu. Apalagi kalau kejadian semacam ini dilakukan oleh orang yang seharusnya mengatur masyarakat, membela masyarakat banyak dan menjadi contoh bagi mereka.

Pelaku yang memperkosa siswi SMP di Gresik hingga hamil terus mendesak keluarga korban agar tak melanjutkan kasusnya.

Bahkan, pelaku bersedia memberikan uang Rp 1 Milir kepada keluarga korban jika kasus hukumnya dicabut alias damai.

Namun, hingga saat ini aparat kepolisian belum melakukan penahanan kepada pelaku yang telah menghamili gadis dibawah umur tersebut.

Belakangan, pihak dari tersangka berusaha menyogok keluarga korban dengan sejumlah uang yang nilainya cukup besar.

Awalnya, pihak keluaga didatangai oleh anggota DPRD Gresik, Nur Hudi yang tak lain teman pelaku.

Kehadiran politisi NasDem itu untuk menawarkan iming-iming uang agar laporan kasus dugaan persetubuhan di Polres Gresik dicabut dan diselesaikan secara kekeluargaan.

Sang wakil rakyat itupun memberi tawaran Rp 500 juta kepada keluarga korban agar kasus yang menimpa SG tidak berlanjut ke ranah hukum.

Namun, tawaran Rp 500 juta itupun ditolak oleh keluarga korban hingga rumahnya kembali didatangi oleh anggota DPRD Gresik, Nur Hudi dengan memberi tawaran Rp 1 Miliar.

Kakak siswi SMP Gresik berinisial C menceritakan, rumahnya kembali didatangi oleh anggota DPRD Gresik, Nur Hudi pada Jumat (1/5/2020) siang.

Dikansir TribunnewsBogor.com dari Surya.co.id (Tribun-Network), Nur Hudi berkunjung ke rumah korban seorang diri.

Dirumah tersebut, Nur Hudi menemui ibunda korban yakni IS (49).

Orang yang bertamu dan tuan rumah duduk di ruang tamu beralaskan tikar karena di rumah kontrakan tersebut tidak ada kursi dan meja.

Saat pertemuan itu, dia menawarkan sejumlah uang yang nilainya fantastis agar laporan korban di kantor polisi untuk dicabut.

Apalagi terduga pelaku belum dilakukan pemanggilan sebagai saksi ataupun tersangka sejak laporan pertama kali dibuat dua pekan lalu.

“Pak Nur hudi ke rumah saya sendiri menemui ibu.

Malah di naikkan 1 Miliar kalo ibu mau langsung adik saya di ajak ke notaris katanya.

Itu uang dari pelaku katanya tapi lewat pak Nur Hudi niatnya memberi solusi bilangnya gitu,” ucap C kepada Surya, Senin (11/5/2020).

Ini bukan kali pertama Nur, mencoba agar kasus yang menimpa MD itu diselesaikan secara kekeluargaan.

Saat itu, lanjut C, Nur siap membantu uang Rp 500 juta kepada keluarga korban untuk dibikinkan rumah.

Apalagi rumah kontrakan yang ditinggali MD kondisinya memprihatinkan.

Namun, tawaran itu ditolak dan Nur mencoba menghubungi pihak keluarga MD seperti pakde untuk mau menyelesaikan kasus ini secara damai dan keluarga.

Usaha Nur ini sia-sia, upayanya agar terduga pelaku SG (51) dan korbannya siswi SMP yang saat ini tengah hamil 7 bulan untuk damai gagal.

Karena keluarga korban bersikeras tetap ingin kasus ini berjalan dan terduga pelaku segera cepat ditangkap oleh Polisi.

Dikonfirmasi terpisah, Nur Hudi tidak menampik adanya pertemuan dirinya dengan ibu korban.

Hal itu dilakukan atas inisiatif sendiri karena solusi yang diberikannya diklaim lebih bijaksana.

”Semua ini karena bentuk keprihatinan saya terhadap keluarga Korban MD supaya punya rumah sendiri dan ada untuk masa depan bayinya.

Padahal ini saya melancangi sendiri karena tidak di suruh tersangka menjanjikan seperti itu.

Karena keluarga korban tidak setuju, saya juga tidak jadi menyampaikan ke keluarga tersangka,” terang Nur.

Pihaknya mengaku menghormati proses yang berjalan dan tidak ikut campur.

Bahkan saat ini sudah tidak ada lagi komunikasi kedua belah pihak, baik dengan tersangka atau korban.

“Kami pun tidak pernah menghalangi proses hukum yang berjalan atau lakukan lobi-lobi dengan pihak berwajib terkait masalah ini.

Itulah penjelasan yang bisa saya berikan dan terima kasih kami sampaikan kepada teman teman media juga publik, hal seperti ini secara tidak langsung bisa menjadikan pelajaran yang berharga bagi kita semua,” paparnya.

Diketahui, hubungan Nur Hudi dengan Sugianto bukanlah saudara. Bahkan saat SG dan keluarga menceritakan kejadian ini kepadanya di lokasi praktek sebagai Supranaturalis.

Terkait uang damai itu bukanlah uang pribadinya, tetapi uang warisan terduga pelaku.

Nur mengaku memposisikan diri sebagai wakil rakyat dalam menyelesaikan kasus ini.

Saat ini, MD tengah berada di rumah merawat ibunya IS yang sedang sakit di rumah.

Korban Diancam Ibunya Akan Dibunuh

Koban MD mengaku pasrah saat pelaku melakukan aksi bejatnya.

MD (16) remaja siswi SMP di Gresik, Jawa Timur mengaku diancam jika tak melayani nafsu tetangganya tersebut.

Pelaku, berinisial SG (50) diduga memperkosa korban sebanyak enam kali hingga hamil.

Pria beristri dengan dua anak itu melakukan aksi perkosaan sejak Maret 2019 sampai April 2020.

Dari penuturan MD, saat melampiskan nafsu bejatnya, pelaku kerap melontarkan ancaman.

“Kalau saya menolak, dia mengancam akan membunuh ibu saya,” kata MD dilansir SURYAMALANG.COM, Jumat (1/5/2020).

Ancaman itu yang membuat MD tidak bisa menolak ajakan Sugianto.

MD pun mencoba menutupi aksi bejat Sugianto.

Saat akan berangkat ke sekolah, MD mengaku kerap melihat pelaku menatap dengan tatapan tajam di gapura desa.

Saat akan melampiaskan nafsunya, pelaku biasa mengirim pesan singkat kepada MD.

Agar MD tutup mulut, S kerap memberi uang sebesar Rp 50.000 sampai Rp 100.000.

S juga memberi pil yang disebut sebagai obat anti-hamil kepada MD.

Ibunda korban berinisial Is baru mengetahui bila MD hamil pada pada Rabu (22/4/2020).

Kecurigaan sang ibu karena belakangan MD biasa memakai baju dengan ukuran besar.

Saat tidur, MD juga sering menutupi perut dengan sarung.

“Dia mau tanggung jawab, tapi dengan cara menggugurkan kandungan anak saya. Saya tolak.”

“Ini sudah dosa, jangan ditambah dosa lagi. Saya minta pelaku ditangkap dan dihukum seberat-beratnya,” ucap Is.

Is mengungkapkan pelaku sering selalu mengirim pesan singkat kepada keluarganya.

“Biar anak saya melahirkan. Saya tidak mau menanggung dosa. Pelaku harus dihukum seberat-beratnya,” terangnya.

Editor: GR

Wartawan: Eddy

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *