Bukan Terserah, Psikolog Pilih Indonesia Bangkit

2 min read

Jarrakpossulawesi.com | Psikolog Klinis Forensik Kasandra Putranto menyesali adanya gerakan ‘Indonesia Terserah’ yang dinilai dapat mengganggu psikologis masyarakat. Pasalnya, pada pandemi Covid-19 ini semestinya kondisi mental masyarakat harus dijaga betul.

Dia mengatakan seharusnya masyarakat lebih menghormati para tenaga medis yang menjadi benteng terdepan dalam menghadapi Pandemik Covid-19 Kemudian, populernya narasi Indonesia terserah malah membuat disparitas ini kian tak berujung.

“Saya lebih suka membuat narasi Indonesia bangkit, kita pasti bisa, bersama-sama mengatasi bencana ini,” kata Kasandra kepada awak media hari rabu, 20 Mei 2020. 

Dia mengaku sangat menghormati perjuangan para tenaga medis yang telah mengorbankan waktu dan tenaganya untuk menyembuhkan pasien positif Covid-19. Untuk itu dia mengajak masyarakat ikut membangkitkan rasa optimisme, berhenti untuk menyalahkan pihak tertentu.

“Mereka pasti sudah sangat lelah, jadi tentu saja membutuhkan dukungan masyarakat dengan cara menjaga protap kesehatan

yang dianjurkan. Namun, membuat narasi Indonesia terserah justru berpotensi menumbuhkan kebencian,” ucapnya. 

Saya lebih suka membuat narasi Indonesia bangkit, kita pasti bisa, bersama-sama mengatasi bencana ini.

Lantas, dia menyebut sebagian masyarakat Indonesia memang masih memiliki wawasan yang begitu minim, sehingga sangat mudah terprovokasi dan acap kali tak mampu mengendalikan diri.

“Kebencian pada sekelompok masyarakat yang memang belum memiliki wawasan, belum memiliki kemampuan mengendalikan dorongan, yang masih dikuasai keyakinan yang salah atau tidak tepat,” ujarnya.

Kasandra menegaskan, narasi Indonesia terserah tidak patut untuk digaungkan salam situasi yang serba sulit ini. Dia menyarankan masyarakat untuk kompak menjalankan physical distancing, serta menjaga kesehatan jiwa dan raga. Supaya korban Pandemik Covid-19

angkanya menurun.

“Apapun tujuannya, menurut saya justru tidak efektif. Sebaiknya maksimalkan semua channel media yang ada untuk memberikan pendidikan

tentang Covid-19, memberikan alternatif solusi terhadap permasalahan mereka (paramedis), terutama membatasi jangan sampai terjadi pelanggaran protap kesehatan,” kata dia.

Dengan berseliwerannya berita bohong di berbagai media sosial

kata dia, hal itu dapat merusak mental masyarakat dalam menghadapi wabah penyakit non-alam ini.

“Masalahnya dengan hoak

provokasi dan fitnah, kondisi mental masyarakat menjadi semakin tidak menentu. Ada yang tidak percaya pemerintah, menyebarkan hoaks, memprovokasi, dll,” ucapnya.

Selanjutnya, Kasandra berharap betul kepada seluruh masyarakat untuk lebih memfokuskan diri menjaga kesehatan fisik dan mengikuti anjuran pemerintah demi memutus rantai penyebaran Covid-19.

Editor: GR

Sumber: Psikolog Klinis Forensik Kasandra Putranto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *